Tadabbur QS Yusuf Ayat 92 – Berdakwah dengan Hati yang Lapang

tadabbur qs yusuf

Jika kita perhatikan kisah Nabi Yusuf AS, terdapat satu ayat yang menurut penulis, membuat hati terasa sejuk. Yaitu ketika beliau akhirnya bertemu dengan saudara-saudaranya setelah sekian lama terpisah. Saudara-saudara yang dulu tega melempar beliau ke sumur, menjualnya sebagai budak, bahkan membuat hidupnya penuh luka. Tapi apa ucapan Yusuf ketika akhirnya berkuasa?

قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ
“Dia (Yusuf) berkata, ‘Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, semoga Allah mengampuni kamu, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.’” (QS. Yusuf: 92)

Kisah yang Penuh Maaf

Dapat kita bayangkan bahwa saat itu Nabi Yusuf AS memiliki semua kesempatan untuk membalas. Beliau sudah menjadi penguasa, sedang yang menyakitinya datang dalam keadaan lemah. Tapi justru yang keluar dari lisannya adalah kata-kata penuh kasih: “Tidak ada cercaan untuk kalian hari ini.”

Inilah akhlak seorang nabi. Ia menutup rapat aib masa lalu, bukan hanya memaafkan, tapi juga mendoakan agar Allah mengampuni saudaranya.

Tafsir Para Ulama

  • Ibnu Katsir mengatakan, ucapan ini mirip dengan sabda Rasulullah ﷺ saat Fathu Makkah: “Pergilah, kalian bebas.” Tidak ada balas dendam, yang ada hanyalah kasih sayang.
  • Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar menuliskan bahwa jika di dunia ini ada orang-orang penyayang, maka Allah lebih Penyayang dari sekalian orang-orang yang penyayang itu. Sehingga Nabi Yusuf bukannya mendendam, justru memberikan sehelai bajunya untuk diusapkan di mata ayahnya yang buta.[1]
  • Wahbah az-Zuhaili menegaskan bahwa dalam QS Yusuf ayat 92, merupakan contoh teladan dalam memberikan maaf tanpa cercaan dan makian, meskipun memiliki kemampuan untuk membalas. Bahkan justru disertakan doa yang tulus.[2]

Pelajaran untuk Seorang Pendakwah

Ketika berdakwah, wajar jika apa yang kita sampaikan menuai beragam reaksi. Ada yang menerima dengan gembira, ada pula yang menolak, mengejek, bahkan menyakiti. Maka dari itu, QS Yusuf: 92 ini menjadi cermin bagi seorang pendakwah, agar memperhatikan hal-hal berikut:

Pertama, tidak menjadikan masa lalu sebagai senjata dakwah.
Sering kali orang yang kita dakwahi memiliki rekam jejak yang kurang baik. Namun dakwah bukan ruang untuk membuka arsip dosa, apalagi menjadikannya alat menekan atau mempermalukan. Mengungkit masa lalu hanya akan menimbulkan penolakan, bukan hidayah.

Kedua, tetap mendoakan kebaikan meski disakiti secara personal.
Penolakan dalam dakwah kadang tidak berhenti pada perbedaan pendapat, tetapi berubah menjadi hinaan, fitnah, atau sikap merendahkan. Di sinilah keteladanan Nabi Yusuf AS tampak jelas. Beliau tidak sekadar berkata, “Aku memaafkan,” tetapi melangkah lebih jauh dengan mendoakan ampunan. Hal ini menegaskan bahwa dakwah tidak boleh berhenti pada kontrol emosi, tetapi harus naik ke level kebeningan hati.

Ketiga, menyadari bahwa pendakwah bukan pemilik surga dan neraka.
Memaafkan bukan tanda keunggulan moral yang patut dibanggakan. Nabi Yusuf menutup ucapannya dengan menyebut Allah sebagai Arhamur Rāhimīn, seolah mengingatkan bahwa ia bukan hakim, bukan pula pemberi vonis akhir. Seorang pendakwah, sepatutnya selalu merasa kecil di hadapan rahmat Allah. Ia  hanya menyampaikan kebenaran, tapi tidak merasa berhak menentukan siapa yang layak atau tidak layak mendapat ampunan-Nya.

Penutup

QS Yusuf ayat 92 bukan sekadar kisah masa lalu yang tertuang di Al Quran semata, tapi pedoman bagi siapa saja yang ingin menebarkan Islam dengan kasih sayang. Memaafkan, tidak mengungkit kesalahan, dan mendoakan kebaikan bagi orang lain, demikianlah akhlak seorang pendakwah sejati.

 

Author: Febria Anisaningrum

Divisi Dakwah Digital dan Komunitas – Majelis Tabligh dan Ketarjihan PDA Kota Malang

[1] Hamka, Tafsir Al Azhar Jilid 5,2021, Depok: GIP, hal. 30

[2] Prof. Dr. Wahbah az Zuhaili, Tafsir Al Munir, 2003, Depok: GIP, hal 72

 

Baca juga artikel kajian Islami lainnya di sini yuk!



Picture of admin

admin

Leave a Replay