Pahala Melayani: Keutamaan Ibu Menyiapkan Sahur dan Berbuka

keutamaan menyiapkan sahur dan berbuka

Menjadi seorang Ibu di bulan Ramadan adalah kemuliaan yang luar biasa. Di balik kesibukan di dapur, mulai dari kepulan asap saat menyiapkan sahur hingga menyajikan hidangan berbuka, tersimpan gudang pahala yang tak terhingga.

Seringkali para Ibu merasa sedih karena waktunya habis di dapur sehingga tidak bisa membaca Al-Qur’an sebanyak anggota keluarga lainnya. Namun, tahukah Bunda? Melayani orang yang berpuasa adalah ibadah yang sangat besar nilainya di mata Allah SWT.

1. Mendapatkan Pahala Orang yang Berpuasa

Setiap kali Ibu menyajikan makanan untuk berbuka, Ibu tidak hanya mendapatkan pahala puasanya sendiri, tapi juga memanen pahala puasa suami dan anak-anak yang menyantap masakan tersebut, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.

Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” > (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 4: 114. Disahihkan oleh Al-Albani).

2. Keberkahan dalam Menyiapkan Sahur

Tindakan Ibu membangunkan keluarga dan menyiapkan santapan sahur adalah bentuk bantuan dalam ketakwaan. Sahur adalah aktivitas penuh berkah yang diperintahkan oleh Nabi SAW.

Rasulullah SAW bersabda: “Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095). (Dengan menyiapkan sahur, Ibu adalah perantara hadirnya keberkahan tersebut bagi seluruh anggota keluarga).

3. Lelah yang Berbuah Ampunan dan Surga

Bagi seorang istri dan ibu, ketaatan dalam mengurus rumah tangga dan melayani keluarga dengan penuh keikhlasan adalah jalan pintas menuju surga.

Rasulullah SAW bersabda: “Jika seorang wanita selalu menjaga salat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan, menjaga kemaluannya, dan taat pada suaminya, maka dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke surga melalui pintu mana saja yang engkau sukai’.” > (HR. Ahmad 1: 191. Disahihkan oleh Al-Albani).

Pesan untuk Para Ibu

Jangan berkecil hati jika waktu berzikir Bunda “terpotong” oleh urusan dapur. Jadikanlah setiap aktivitas mengiris sayur, mengaduk masakan, dan mencuci piring sebagai zikir.

Niatkanlah: “Yaa Allah, hamba menyiapkan ini agar keluargaku kuat beribadah kepada-Mu.” Dengan niat ini, setiap tetap keringat Bunda di depan kompor akan dihitung sebagai amal saleh yang berat timbangannya di akhirat kelak.

Semoga tulisan ini dapat memberi semangat bagi Bunda dan seluruh anggota ‘Aisyiyah dalam menyambut bulan suci. Apakah Bunda ingin saya buatkan draf jadwal menu praktis agar waktu di dapur bisa lebih efisien dan ada waktu lebih untuk tadarus?

Tim Redaksi

Picture of admin

admin

Leave a Replay